Kalau mau cari cara nabung buat beli rumah, bukan cuma soal gaji yang harus besar dulu, tapi soal punya strategi yang jelas. Mulai dari menentukan harga rumah yang realistis, siapin DP + biaya tambahan, lalu bikin sistem nabung yang konsisten (otomatis lebih bagus!) biar pelan-pelan jadi mungkin.
Kedengarannya berat? Tenang… kalau dipecah jadi langkah kecil, kamu bakal kaget sendiri karena ternyata bisa kok!
Jadi, Poinnya…
- Target Jelas = Nabungnya Nggak Ngawang: Tanpa angka yang spesifik (DP, biaya akad, timeline), nabung rumah gampang berubah jadi “tabungan yang kepakai terus”. Bikin target yang jelas bikin kamu lebih fokus.
- Pakai Patokan Aman: Cicilan Maks 30% Gaji: Biar hidup tetap napas, banyak praktisi menyarankan cicilan rumah maksimal sekitar 30% dari penghasilan bulanan (bahkan idealnya 20–25%).
- Gaji Pas-pasan Bukan Halangan, Asal Sistemnya Rapi: Auto-debit tabungan, pisah rekening, dan kurangi kebocoran kecil bisa jadi pembeda antara “niat doang” vs “benar kejadian”.
Punya rumah itu bukan cuma buat yang gajinya puluhan juta. Dengan pendekatan yang realistis dan disiplin kecil-kecilan, kamu tetap bisa mulai dari sekarang. Kuncinya: jangan nunggu siap dulu baru mulai, tapi mulai dulu biar siap.
1. Tentukan Harga Rumah yang Masuk Akal
Banyak yang gagal nabung rumah karena targetnya terlalu tinggi sejak awal. Jadi, sebelum hitung DP, kita tentuin dulu harga rumah realistis.
Cara gampangnya:
- Kalau kamu masih sendiri dan gaji Rp5 juta, jangan langsung ke rumah Rp1 M 😅
- Mulai dari target yang sesuai kemampuan, bahkan kalau perlu: rumah sederhana dulu
Pro tip: lokasi sangat menentukan harga. Kadang “geser 10–20 menit” dari pusat kota bisa beda ratusan juta.
2. Hitung DP + Biaya Tambahan
Nah ini dia yang sering bikin orang kaget: beli rumah itu bukan cuma DP. DP KPR biasanya berapa? Umumnya DP berada di kisaran 10%–30% dari harga rumah, tergantung kebijakan bank, jenis rumah, dan profil finansial kamu.
Biar lebih aman (dan cicilan lebih ringan), banyak orang pakai DP 20%–30%.
Selain DP, biasanya ada biaya tambahan seperti:
Contohnya, BTN menjelaskan biaya provisi KPR umumnya sekitar 1% dari nilai pinjaman. Jadi amanin juga dana tambahan sekitar beberapa persen dari harga rumah/total pembiayaan supaya prosesnya lancar.
3. Pakai Rumus Cicilan Aman (Anti “Nafas Sesak”) 😮💨
Biar kamu nggak jadi “korban cicilan”, pakai patokan ini: Total cicilan bulanan maksimal 30% dari penghasilan
Contoh:
- Gaji Rp5.000.000
- Batas cicilan aman = 30% x 5 juta = Rp1.500.000/bulan
Kalau sekarang kamu juga punya cicilan lain (HP, motor, paylater), sebaiknya cicilan rumah lebih kecil lagi.
4. Bikin “Skema Nabung DP” yang Masuk Budget
Sekarang masuk ke bagian inti: cara nabungnya. Ini contoh realistis untuk gaji pas-pasan.
Simulasi: Gaji Rp5 juta, target DP 5 tahun
Misal kamu incar rumah Rp300 juta.
Target DP 20% = Rp60 juta.
Tambahkan dana biaya lain-lain misal Rp10 juta (biar aman).
Total target = Rp70 juta.
Kalau mau terkumpul dalam 5 tahun (60 bulan):
70.000.000 ÷ 60 = Rp1.166.000/bulan
Kedengarannya lumayan, tapi masih mungkin kalau kamu rapihin pengeluaran.
5. Teknik Nabung untuk Beli Rumah dengan Gaji UMR
Biar nabung DP nggak “kecolongan”, coba sistem ini:
1) Pisahkan 3 rekening (atau 3 kantong uang)
- Rekening A: kebutuhan hidup
- Rekening B: tabungan DP (nggak boleh diganggu)
- Rekening C: dana darurat (wajib ada)
Banyak orang gagal karena DP dicampur satu rekening sama jajan—akhirnya “kok nggak nambah-nambah ya?” 😭
2) Auto-debit tepat setelah gajian
Trik paling ampuh: tabungan ditarik duluan, baru sisanya dipakai hidup. Kalau menunggu “sisa akhir bulan”, biasanya yang tersisa cuma doa~
3) Pangkas kebocoran halus
Coba cek ini:
- Langganan aplikasi numpuk
- Ongkir & impulsive buying
- Kopi tiap hari (yang “cuma 25 ribu” tapi jadi besar kalau sebulan)
Kamu nggak harus pelit, tapi cukup lebih sadar.
6. Tabungnya Jangan Cuma Ditabung, Tapi “Dibantu Tumbuh”
Kalau target kamu masih 3–5 tahun, uang DP sebaiknya jangan cuma ngendap (apalagi kalau kamu gampang kepakai). Kamu bisa pertimbangkan instrumen yang relatif stabil seperti:
- Tabungan berjangka
- Deposito
- Reksa dana pasar uang (risiko lebih rendah dibanding saham)
- Emas (lebih cocok untuk jangka menengah-panjang)
Catatan: pilih instrumen sesuai profil risiko kamu ya. Yang penting, likuid dan mudah dicairkan pas butuh DP.
7. Kalau Masih Berat, Mainkan 2 Opsi Ini
Kalau angka Rp1 jutaan per bulan masih kerasa berat, tenang… kamu punya 2 opsi realistis:
Turunkan target rumah dulu. Boleh mulai dari:
- Rumah subsidi
- Rumah lebih kecil
- Lokasi lebih pinggir (tapi akses bagus)
Punya rumah pertama itu seringnya batu loncatan, bukan final form.
Naikkan pemasukan kecil-kecilan
Gaji pas-pasan bukan berarti kamu nggak bisa nambah cashflow. Coba yang low effort tapi konsisten:
- Freelance ringan (desain, admin, copywriting)
- Reseller
- Jasa sesuai skill
- Jual barang yang jarang dipakai
Tambahan Rp500 ribu–Rp1 juta/bulan itu bisa mempercepat timeline banget
Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Beli Rumah, Asal Pakai Strategi
Punya rumah itu butuh strategi. Dengan cara nabung buat beli rumah yang rapi (target jelas, cicilan aman maksimal 30% gaji, dan sistem nabung otomatis), kamu bisa pelan-pelan nyusun DP tanpa bikin hidup tersiksa. Kamu nggak perlu sempurna dari awal, yang penting mulai dulu dan konsisten!
Kalau kamu mau belajar ngatur uang lebih strategis (nggak cuma soal rumah), langsung cek Tuwaga ya! Di Tuwaga kamu bisa dapetin informasi lengkap tentang berbagai produk finansial seperti kartu kredit, KTA, deposito, dana tunai properti & kendaraan, plus artikel insight finansial biar keputusan kamu makin mantap. Kamu juga bisa apply produk keuangan langsung di Tuwaga! Dan jangan lupa mampir ke TuwagaPromo buat cek promo & diskon menarik di merchant favorit kamu di mall!














































