Cara menentukan harga jual makanan itu intinya adalah menghitung HPP (harga pokok penjualan) per porsi, lalu menambahkan margin keuntungan yang realistis tanpa lupa memperhitungkan biaya operasional seperti gas, listrik, kemasan, sampai promo.
Kalau kamu bisa pegang rumus dasarnya, kamu nggak cuma “ikut-ikutan harga tetangga”, tapi bisa jualan dengan harga yang masuk akal, kompetitif, dan tetap cuan. Yuk, kita bahas step-by-step biar gampang dipraktikkan!
Jadi, Poinnya…
- Mulai dari HPP, Baru Bicara Untung: Cara menentukan harga jual makanan yang benar selalu berangkat dari HPP per porsi (bahan baku + operasional + kemasan). Kalau HPP belum jelas, harga jual rawan “ngarang”.
- Margin Itu Strategi, Bukan Sekadar Persentase: Kamu bisa pakai markup, margin pricing, bundling, atau value-based, pilih yang sesuai target pasar dan positioning menu kamu.
- Waspada Biaya Tersembunyi: Fee delivery, promo, kemasan, dan waste sering jadi penyebab margin tiba-tiba tipis. Sisipkan buffer supaya cuan tetap aman.
Kenapa Menentukan Harga Jual Itu Krusial?
Banyak pebisnis kuliner semangat jualan, tapi pas ditanya “untungnya berapa?”, dia nggak bisa jawab secara pasti.
Nah, menentukan harga jual itu bukan sekadar angka di menu, tapi tentang:
- Bisnis kamu bisa bertahan atau tidak
- Kamu bisa gaji karyawan/dirimu sendiri atau tidak
- Kamu bisa upgrade kualitas dan buka cabang atau tidak 😉
Kalau harga terlalu murah, kamu capek tapi boncos. Kalau terlalu mahal, pembeli kabur. Kuncinya: hitung dulu, baru jual.
Cara Menentukan Harga Jual Produk
1. Pahami dulu HPP (Harga Pokok Penjualan)
HPP itu total biaya untuk menghasilkan 1 porsi menu. Dalam bisnis makanan, HPP umumnya terdiri dari:
- Biaya bahan baku (ayam, beras, bumbu, minyak, dll)
- Bahan tambahan & topping (keju, saus, sambal, dsb)
- Biaya tenaga kerja (harian/karyawan, termasuk kamu kalau turun tangan)
- Biaya operasional (gas, listrik, air, sewa, iuran, transport)
- Biaya kemasan (box, sendok, cup, stiker, tissue)
- Biaya lain-lain (platform delivery fee, potongan promo, waste/food loss)
Tenang, kamu nggak harus langsung super detail. Tapi minimal, bahan baku + operasional + kemasan wajib masuk.
2. Hitung HPP per porsi (rumus paling basic)
Rumusnya simpel: HPP per porsi = (Total biaya produksi) ÷ (Jumlah porsi yang dihasilkan)
Contohnya: Misal untuk 100 porsi:
- Total biaya bahan baku: Rp500.000
- Biaya produksi lain (tenaga kerja, gas/listrik, kemasan): Rp300.000
- Total biaya produksi: Rp800.000
Maka: HPP per porsi = Rp800.000 ÷ 100 = Rp8.000
Sampai sini, kamu baru tahu “modal per porsi”. Nah, baru boleh nambahin untung.
3. Tentukan margin
Margin itu keuntungan yang kamu tambahkan di atas HPP. Misalnya kamu ingin margin 30%.
Rumusnya: Harga jual = HPP + (HPP × margin)
Contoh:
- HPP: Rp8.000
- Margin 30%: Rp8.000 × 30% = Rp2.400
- Harga jual = Rp8.000 + Rp2.400 = Rp10.400
Kedengarannya lurus ya? Tapi realitanya ada beberapa strategi pricing biar makin cocok sama pasarmu.
7 Metode Cara Menentukan Harga Jual Makanan
1. Markup Pricing (paling gampang)
Harga jual = Modal + (Modal × markup)
Cocok buat pemula karena cepat.
Contoh: modal seblak Rp10.000, markup 20%
Harga jual = 10.000 + (10.000×20%) = Rp12.000
2. Margin Pricing (biar kamu tahu margin sebenarnya)
Margin = (Harga jual − Modal) ÷ Harga jual
Contoh: jual Rp25.000, modal Rp15.000
Margin = (25.000−15.000)/25.000 = 0,4 = 40%
3. Bundling (buat naikin volume)
Cocok saat launching atau mau dorong penjualan.
Harga bundling = (Modal × jumlah) − diskon
Contoh: 2 porsi modal 15.000, diskon 2.000
Harga bundling = (15.000×2) − 2.000 = Rp28.000
4. Keystone Pricing (umum di ritel)
Harga jual = 2 × modal
Biasanya untuk produk yang ringan biaya operasionalnya. Untuk makanan, boleh dipakai tapi tetap cek daya beli pasar.
5. Competitor-Based Pricing (ikut pasar, tapi tetap pintar)
Harga jual = Harga kompetitor ± nilai tambah
Kalau kamu punya porsi lebih besar, packaging lebih premium, atau rasa yang beda, kamu bisa punya justifikasi harga.
6. Cost-Plus Pricing (HPP + markup)
Mirip markup, tapi lebih rapi karena HPP sudah termasuk overhead. Harga jual = Biaya produksi + (Biaya produksi × markup)
7. Value-Based Pricing (berdasarkan persepsi nilai)
Harga ditentukan dari “nilai” di mata pelanggan (rasa unik, branding, experience). Cocok untuk dessert premium atau menu signature. Tapi wajib dibarengi kualitas yang konsisten ya.
4. Jangan lupa biaya “siluman”
Ini yang sering kejadian: HPP bahan baku sudah benar, tapi laba tetap tipis karena:
- Biaya kemasan (apalagi kalau heavy duty)
- Fee aplikasi delivery
- Promo/discount
- Waste (bahan kebuang, makanan nggak kejual)
- Komisi reseller/agen
- Gas & listrik yang naik pelan-pelan
Solusi praktis: sisipkan “buffer” 3–10% dari HPP untuk menutup biaya tak terlihat. Ini bikin kamu lebih aman.
5. Uji harga
Sebelum fix, lakukan mini test:
- Bandingkan 3 kompetitor terdekat
- Coba 2 versi harga (mis. Rp12.000 vs Rp13.000) selama 1–2 minggu
- Lihat dampaknya ke penjualan dan margin
- Dengar feedback: “Kemahalan” itu karena harga atau karena value belum terasa?
Ingat: harga itu bukan cuma angka. Harga adalah “pesan”: murah, medium, atau premium.
Bisnis Lebih Tahan Lama
Kalau kamu ingin bisnis kuliner bertumbuh, cara menentukan harga jual makanan itu wajib pakai hitungan, bukan perasaan. Mulai dari menghitung HPP per porsi, pilih metode margin/markup yang cocok, lalu uji ke pasar sambil mengantisipasi biaya “siluman”. Dengan begitu, harga jualmu bukan cuma laku, tapi juga bikin bisnis kamu sehat dan berkelanjutan.
Dan kalau kamu lagi merapikan strategi keuangan (baik untuk bisnis maupun pribadi), yuk cek Tuwaga. Di Tuwaga kamu bisa dapat info lengkap soal berbagai produk finansial seperti kartu kredit, KTA, deposito, hingga dana tunai properti dan kendaraan, plus artikel-artikel yang bantu kamu dapet insight finansial dengan cara yang ringan tapi tetap kredibel.
Kamu juga bisa apply produk keuangan langsung di Tuwaga. Bonusnya, intip juga TuwagaPromo buat berburu promo dan diskon menarik di merchant favorit kamu di mall!















































