Belum genap dua bulan di tahun 2025, tapi suasana di depan Gedung DPR RI udah panas banget! 🔥 Gelombang demo Gedung DPR RI terus berdatangan, dipicu sama kebijakan pemerintah yang dinilai makin memberatkan masyarakat. Mulai dari biaya hidup yang makin tinggi, harga kebutuhan pokok yang melambung, sampai keputusan-keputusan yang bikin netizen auto gerah.
Nggak heran deh, di media sosial jadi rame banget sama tagar-tagar protes kayak #PeringatanDarurat, #KaburAjaDulu, sampai yang paling viral #IndonesiaGelap. Netizen pun nggak segan-segan mengungkapkan kekecewaannya lewat berbagai platform.
Mau tahu lebih lanjut kenapa semua ini bisa terjadi? Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini biar kamu nggak cuma sekadar ikut-ikutan, tapi juga paham sama masalahnya! 😉
1. Peringatan Darurat Hitam
Pertama, tagar #PeringatanDarurat hitam jadi trending topic lagi di media sosial mulai 3 Februari 2025 malam. Sebelumnya, Peringatan Darurat warna biru juga pernah viral di tahun 2024, buntut aksi tolak sikap DPR yang menyimpang dari putusan Mahkamah Konstitusi soal peraturan UU Pilkada 2024.
Di awal tahun 2025, Peringatan Darurat berubah jadi hitam dan kembali viral karena beberapa kebijakan pemerintah yang bikin masyarakat makin geram. Dilansir Tuwaga, ada 5 hal pemicu aksi Peringatan Darurat:
- Gas LPG 3 kg cuma bisa dibeli di pangkalan resmi, bikin warga harus keluarin waktu, tenaga, dan biaya ekstra karena harus ke lokasi yang jauh.
- Guru honorer demo karena mereka nggak diangkat jadi ASN, padahal udah lama banget mengabdi.
- Dosen ASN minta tukin (tunjangan kinerja) yang belum cair sejak 2020, padahal mereka udah kerja keras banget.
- BBM naik tapi stoknya kosong, terutama di beberapa SPBU Shell dan BP, bikin pengendara panik.
- Anggaran Kemenkeu 2026 yang nggak prioritaskan sektor pendidikan dan kesehatan, bisa bikin biaya sekolah dan layanan kesehatan makin mahal.
Gerakan #PeringatanDarurat ini jadi tempat buat warga untuk suarakan kekecewaan mereka. Masyarakat berharap pemerintah lebih peduli sama sektor-sektor vital!
2. Kabur Aja Dulu
Selain tren Peringatan Darurat, awal Februari 2025 ini juga diramaikan sama fenomena Kabur Aja Dulu. Nah, tren ini bener-bener ngegambarin keresahan masyarakat yang udah mulai ngerasa, “Udah deh, mending kabur aja keluar negeri!”.
Dilansir dari Tuwaga, tren ini muncul karena banyak orang ngerasa kalau kondisi ekonomi di Indonesia makin susah. Mulai dari gaji yang rendah, peluang kerja yang terbatas, kebijakan pemerintah yang nggak efektif, pemerintah yang makin nggak memedulikan aspirasi rakyat, sampai soal kebijakan efisiensi anggaran APBN 2025. Jadi, banyak yang merasa, “Mending kerja di luar negeri aja, gajinya lebih gede, fasilitasnya juga oke!”
Pemerintah sih, gak melarang warga buat merantau, asal ikutin prosedur yang benar. Tapi, ada juga yang menanggapi tren ini agak sensitif.
Menteri ATR, Nusron Wahid, bilang kalau sikap ini justru menunjukan kurangnya rasa cinta tanah air. “Kalau kemudian hopeless gitu seakan-akan kabur aja dulu, itu menandakan, ya mohon maaf kurang cinta terhadap Tanah Air,” katanya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/2/25), seperti diwartakan
Di sisi lain, Wakil Menteri Kemenaker, Immanuel Ebenezer, terlihat santai walaupun agak nyinyir aja, “Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu jangan balik lagi,” ujarnya di kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Desa Tertinggal, Jakarta Pusat, Senin (18/2/25).
Jadi gimana, kamu tim kabur atau tim bertahan di Tanah Air, nih?
3. Puncaknya: Indonesia Gelap
Puncaknya, Indonesia Gelap jadi trending banget di X, sampai Kamis sore (20/2/2025). Tagar ini bukan cuma jadi bahan obrolan, tapi juga jadi simbol kekesalan warga terhadap keadaan yang makin mencekik.
Nggak cuma di dunia maya, gerakan nyata juga mulai bergerak. Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pun turun ke jalan, dengan aksi besar di Istana Negara, dan mereka menyuarakan 13 tuntutan yang bikin gerah.
Berikut ini 13 tuntutan massa aksi #IndonesiaGelap yang dilansir Kompas:
- Pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis, dengan pembatalan pemangkasan anggaran pendidikan.
- Cabut proyek strategis nasional yang merugikan rakyat dan dorong reforma agraria sejati.
- Tolak revisi undang-undang minerba yang dianggap membungkam suara kritis.
- Hapuskan multi fungsi ABRI yang bisa mengekang kehidupan demokratis.
- Sahkan rancangan undang-undang masyarakat adat untuk perlindungan hukum tanah dan kebudayaan.
- Cabut instruksi presiden nomor 1 tahun 2025 yang merugikan sektor publik.
- Evaluasi program makan bergizi gratis (MBG) agar tepat sasaran dan nggak cuma jadi alat politik.
- Realisasikan anggaran tunjangan kinerja dosen demi kesejahteraan pendidikan.
- Mendesak presiden keluarkan peraturan pemerintah untuk memberantas kejahatan ekonomi.
- Menolak revisi undang-undang TNI, Polri, dan Kejaksaan yang berpotensi memperkuat impunitas aparat.
- Efisiensi dan rombak Kabinet Merah Putih yang boros dan nggak bertanggung jawab.
- Menolak revisi tata tertib DPR yang bisa memicu kesewenang-wenangan.
- Reformasi total kepolisian untuk mengurangi budaya represif dan meningkatkan profesionalisme.
Sementara itu, proyek Danantara yang baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 24 Februari 2025, jadi bahan perdebatan panas. Proyek ini dirancang buat mengelola dana triliunan yang katanya bakal membuat Indonesia lebih maju.
Tapi sayangnya, banyak yang nggak percaya kalau proyek ini bakal menguntungkan rakyat. Banyak kontroversi terkait Danantara seperti dikutip Kompas, mulai dari pengelolaan dana yang nggak bisa diaudit oleh KPK atau BPK, sampai pengalihan dana hasil efisiensi anggaran ke Danantara yang justru dipertanyakan ke transparansi dan kejelasannya.
Semua tuntutan yang muncul di aksi ini adalah refleksi ketidakpuasan yang udah menumpuk lama. Ini bukan cuma demo mahasiswa biasa, ini adalah suara dari seluruh rakyat Indonesia yang pengen ada perubahan nyata, bukan sekadar janji-janji manis!
Pandangan Para Ahli soal Kondisi Indonesia Belakangan Ini
Seruan aspirasi dan aksi protes masyarakat tampak nggak terlalu dianggap penting oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan. Ia bilang, “Jadi kalau ada yang bilang itu Indonesia gelap, yang gelap kau bukan Indonesia. Jadi kita jangan terus mengklaim sana-sini,” katanya dalam acara Kumparan The Economic Insights 2025 di Westin Hotel Jakarta, Rabu (19/2).
Menurut Muchtar Habibi, Dosen UGM, menilai gerakan #IndonesiaGelap adalah respons masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, terutama pemangkasan anggaran di sektor penting.
Sementara itu, pakar komunikasi politik Hendri Satrio menyatakan bahwa pemerintah gagal memahami tagar-tagar sosial seperti #AdiliJokowi, #KamiBersamaSukatani, #IndonesiaGelap, dan #KaburAjaDulu, yang sebenarnya merupakan seruan aksi dan ekspresi kegelisahan rakyat, bukan sekadar tren media sosial.
ya jelas banyak yang khawatir, sebab penguasa memandang gerakan sosial rakyat hanya sebatas gerakan tagar, padahal tagar berupa ajakan untuk bertindak, cek aja #kaburajadulu #KamiBersamaSukatani #indoneiagelap hingga #AdiliJokowi adalah call to action, bukan cuma sekedar tagar!
— Hendri Satrio #Hensa (@satriohendri) February 22, 2025
Demo Gedung DPR RI, Cerminan Kegelisahan Publik!
Demo Gedung DPR RI kali ini bukan sekadar aksi biasa, tapi bentuk nyata dari suara rakyat yang berharap perubahan. Dari masalah ekonomi, pendidikan, hingga transparansi kebijakan, semuanya mencerminkan kebutuhan masyarakat akan keadilan dan kesejahteraan yang lebih baik.
🔍 Ingin tahu lebih banyak soal isu ekonomi dan finansial terkini? Kunjungi Tuwaga untuk informasi lengkap seputar investasi, produk keuangan, tips finansial, hingga insight tentang kebijakan ekonomi dan dampaknya buat kamu. Yuk, tingkatkan literasi finansialmu bersama Tuwaga!