Tahun baru 2026 punya resolusi buat persiapan masa pensiun? Bukan karena kamu mau pensiun besok, tapi karena kamu pengin hidup tetap nyaman saat penghasilan rutin nanti berhenti. Intinya, persiapan pensiun itu soal bikin rencana dari sekarang: tentukan target dana, atur tabungan & investasi, siapkan proteksi (asuransi), dan jaga kesehatan serta aktivitas biar tetap produktif.
Tenang, kalau kamu mulai dari langkah kecil yang konsisten, efeknya bisa besar banget, yuk, kita bahas cara menyusunnya satu per satu!
💡 Jadi, Poinnya…
- Mulai Lebih Awal = Lebih Ringan: Semakin cepat kamu memulai persiapan, semakin kecil beban nabung per bulan. Efek “waktu” ini bisa jadi senjata paling kuat buat mengejar target dana pensiun.
- Pensiun Bukan Cuma Duit, Tapi Juga Gaya Hidup: Keuangan penting, tapi kesehatan, rutinitas, dan aktivitas setelah pensiun juga menentukan kualitas hidup. Tujuannya bukan sekadar “cukup”, tapi tetap merasa hidup bermakna.
- Proteksi dan Utang: Dua Hal yang Sering Terlupakan: Pensiun nyaman itu biasanya datang dari dua hal: risiko kesehatan yang terlindungi dan beban cicilan yang sudah minimal. Jadi bukan cuma investasi yang dikejar, ya.
Kenapa Persiapan Masa Pensiun Itu Penting?
Banyak orang baru “serius mikirin pensiun” ketika usia sudah mendekati masa pensiun. Padahal, yang bikin pensiun terasa aman bukan karena kamu mendadak nabung besar, tapi karena kamu punya waktu untuk menyiapkan semuanya secara bertahap.
Ada beberapa alasan kuat kenapa persiapan pensiun sebaiknya dimulai sejak dini:
- Pendapatan setelah pensiun cenderung turun, sementara pengeluaran tetap ada.
- Inflasi bikin biaya hidup makin mahal dari tahun ke tahun
- Biaya kesehatan biasanya meningkat seiring bertambah usia.
- Kamu juga pasti ingin tetap mandiri, bukan bergantung pada anak/cucu.
Intinya: pensiun bukan soal “berhenti kerja”, tapi soal “tetap hidup nyaman” dengan sistem keuangan yang sudah siap.
Persiapan Finansial (Keuangan) yang Paling Wajib
1. Hitung target dana pensiun
Langkah pertama yang paling sering dilewati: menghitung kebutuhan dana pensiun yang cukup.
Cara paling praktis:
- Tentukan perkiraan biaya hidup bulanan saat pensiun (misalnya Rp6 juta/bulan).
- Perkirakan durasi pensiun (misalnya 20 tahun).
- Ingat: biaya hidup bisa naik karena inflasi, jadi target dana perlu “naik kelas” juga.
Tidak harus pakai rumus rumit dulu. Yang penting, kamu punya angka target supaya strategi nabung & investasinya lebih terarah.
2. Mulai menabung dan investasi secara rutin (konsistensi menang)
Kalau kamu sudah punya target, langkah berikutnya: bikin mesin uangnya jalan.
Beberapa instrumen yang sering dipakai untuk pensiun:
- Reksadana: cocok buat yang mau bertahap dan diversifikasi.
- Saham: potensi lebih tinggi, tapi butuh toleransi risiko dan waktu.
- Emas: relatif stabil dan sering jadi pelindung nilai.
- Deposito: aman dan cocok untuk porsi konservatif.
Kuncinya bukan harus pilih yang “paling cuan”, tapi pilih yang paling bisa kamu jalani konsisten. Set autopay/autodebet kalau bisa, biar disiplin tetap jalan meski kamu lagi sibuk 😄
3. Manfaatkan program pensiun
Kalau kamu karyawan, coba cek apakah perusahaan menyediakan:
- DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan)
- program pensiun dari kantor, atau fasilitas terkait lainnya.
Kalau kamu peserta BPJS Ketenagakerjaan, juga ada komponen perlindungan yang bisa membantu dalam perencanaan jangka panjang. Intinya, gunakan fasilitas yang memang dirancang untuk “masa depan kamu”.
4. Proteksi asuransi: supaya tabungan pensiun nggak jebol
Banyak orang rajin investasi, tapi lupa proteksi. Padahal salah satu “musuh” dana pensiun itu pengeluaran besar yang tidak terduga, terutama kesehatan.
Minimal pastikan:
- Asuransi kesehatan sesuai kebutuhan (biaya rawat inap itu bisa besar).
- Asuransi jiwa (terutama kalau kamu tulang punggung keluarga).
Tujuannya sederhana: tabungan pensiun tidak terkuras karena risiko besar.
5. Lunasi utang konsumtif sebelum pensiun
Kalau mendekati pensiun masih punya utang konsumtif (kartu kredit, cicilan barang, paylater), itu bisa bikin cashflow “sesak”.
Strateginya:
- Prioritaskan utang berbunga tinggi dulu.
- Evaluasi cicilan yang bisa dipercepat.
- Hindari menambah utang konsumtif baru saat usia makin dekat pensiun.
Pensiun itu enaknya dinikmati, bukan ditemani tagihan.
6. Siapkan sumber penghasilan tambahan
Pensiun nyaman sering kali datang dari kombinasi:
- tabungan/investasi, dan
- penghasilan pasif atau semi-aktif.
Contohnya:
- sewa properti (jika memungkinkan),
- usaha kecil yang stabil,
- proyek freelance sesuai keahlian,
- atau kegiatan produktif yang menghasilkan.
Nggak harus langsung besar. Yang penting bisa jadi “bantalan” keuangan yang membuat kamu lebih tenang.
Persiapan Non-Finansial (Kesehatan & Aktivitas)
7. Jaga kesehatan sejak sekarang (ini investasi juga)
Kedengarannya klise, tapi ini real: kesehatan yang baik bisa menghemat biaya besar.
Mulai dari hal sederhana:
- tidur cukup,
- makan lebih seimbang,
- olahraga rutin (jalan kaki pun oke),
- cek kesehatan berkala.
Dengan tubuh yang fit, kamu lebih bebas memilih aktivitas dan lebih siap menikmati masa pensiun.
8. Siapkan aktivitas setelah pensiun
Banyak orang kaget karena setelah pensiun, waktu luang tiba-tiba “kebanyakan” dan jadi terasa kosong.
Coba pikirkan dari sekarang:
- hobi yang ingin ditekuni,
- komunitas/aktivitas sosial,
- volunteering,
- mengajar/mentoring,
- berkebun, menulis, atau usaha kecil.
Tujuannya bukan sekadar mengisi waktu, tapi menjaga kesehatan mental dan rasa “berguna”. Ini penting banget
9. Ikut program MPP kalau ada
Kalau kamu bekerja di instansi/perusahaan yang menyediakan MPP (Masa Persiapan Pensiun), manfaatkan. Biasanya program ini membantu transisi: dari rutinitas kerja ke rutinitas pensiun, termasuk perencanaan aktivitas dan adaptasi finansial.
Kapan Waktu Terbaik untuk Memulai?
Jawaban paling jujur: sekarang. Tapi biar lebih realistis:
- Ideal: sejak awal karier (beban nabung kecil, waktu panjang).
- Penting: 10–15 tahun sebelum pensiun (waktunya financial check-up serius).
- Mendekati pensiun: fokus pada keamanan (proteksi, dana darurat, utang beres, portofolio lebih konservatif).
Mulai dari apa yang kamu bisa hari ini. Sedikit tapi konsisten jauh lebih berguna daripada rencana besar yang tidak jalan.
Pensiun Nyaman Itu Dibangun, Bukan Ditunggu
persiapan masa pensiun bukan sekadar menabung, tapi membangun sistem: target dana yang jelas, investasi yang konsisten, proteksi yang tepat, utang yang terkendali, plus kesehatan dan aktivitas yang membuat hidup tetap berkualitas.
Kalau kamu mulai sekarang, peluang “pensiun tenang” jadi jauh lebih besar, dan kamu nggak perlu mengorbankan hidup hari ini untuk masa depan.
Kalau kamu ingin cari referensi produk finansial yang sesuai kebutuhanmu, Tuwaga bisa jadi tempat mulai yang praktis. Di Tuwaga kamu bisa akses informasi lengkap soal kartu kredit, tabungan, KTA, deposito, hingga dana tunai properti dan kendaraan, plus baca artikel insight finansial yang relevan.
Kamu juga bisa apply langsung produk keuangan pilihanmu di Tuwaga. Dan jangan lupa cek TuwagaPromo, siapa tahu ada promo & diskon menarik di merchant favorit kamu di mall
FAQ Seputar Persiapan Masa Pensiun
Idealnya sejak awal karier, karena kamu punya waktu panjang untuk menabung dan investasi. Tapi kalau baru mulai sekarang juga tetap bagus, yang penting konsisten, apalagi kalau masih punya 10–15 tahun sebelum pensiun.
Tidak ada angka yang sama untuk semua orang, karena tergantung gaya hidup dan kebutuhan. Cara praktisnya: hitung estimasi biaya hidup bulanan saat pensiun × durasi pensiun, lalu tambahkan faktor inflasi agar nilainya tetap relevan di masa depan.
Bisa kombinasi. Deposito cocok untuk porsi aman, reksadana untuk bertumbuh bertahap, saham untuk jangka panjang dengan risiko lebih tinggi, dan emas sebagai pelindung nilai. Kuncinya: sesuaikan dengan profil risiko, horizon waktu, dan kenyamanan kamu.
Penting banget. Biaya kesehatan adalah salah satu risiko terbesar saat pensiun. Dengan asuransi kesehatan (dan jiwa bila dibutuhkan), tabungan pensiun kamu lebih terlindungi dari pengeluaran besar yang tidak terduga.
Kalau utangnya berbunga tinggi (misalnya kartu kredit), biasanya lebih bijak lunasi dulu karena bunganya bisa “mengalahkan” imbal hasil investasi. Setelah itu, lanjutkan investasi pensiun secara rutin sambil tetap menjaga cashflow aman.















































