Pernah kepikiran pengin mulai investasi saham tapi bingung harus mulai dari mana? Tenang, banyak orang yang awalnya ragu karena takut salah langkah. Kalau sudah tahu caranya, beli saham itu nggak sesulit yang dibayangkan, kok.
Nah, di artikel ini kita bakal bahas tuntas cara membeli saham untuk pemula. Mulai dari persiapan, proses pembelian, sampai tips biar nggak rugi di kemudian hari. Yuk, kita mulai!
💡 Jadi Poinnya…
- Beli Saham Makin Mudah: Mulai dari pilih sekuritas resmi OJK, buka rekening efek & RDN, lalu beli saham lewat aplikasi trading dengan nominal sesuai kemampuan.
- Kendalikan Risiko: pilih saham fundamental kuat, lakukan diversifikasi portofolio, dan jangan pakai uang darurat buat modal investasi.
- Bangun Konsistensi: Pantau kinerja saham secara berkala, disiplin pakai strategi DCA, dan terus belajar biar keputusan investasimu makin matang.
Pahami Dulu Apa Itu Saham
Sebelum download aplikasi saham, kamu harus tahu dulu instrumen investasi apa yang sebenarnya kamu beli. Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan. Jadi, kalau kamu beli saham PT ABC, artinya kamu punya sebagian kecil dari perusahaan itu.
Harga saham lebih fluktuatif dibandingkan instrumen jangka panjang lain seperti emas, tabungan, reksadana, atau sukuk. Artinya, kamu nggak bisa mengharapkan keuntungan instan dan harus siap dengan risiko kerugian tiba-tiba.
Meski begitu, saham banyak diminati investor, mulai dari pemula hingga kelas kakap sebagai salah satu aset diversifikasi investasi. So, sah-sah saja kalau kamu mau mulai terjun ke dunia saham.
Panduan Cara Membeli Saham
Cara beli saham sebenarnya mudah. Cukup unduh aplikasi saham, pilih emitennya, lalu lakukan pembelian di harga tertentu.
Tapi supaya tetap aman dalam investasi saham, kamu perlu mempertimbangkan berbagai hal dalam proses pembeliannya. Berikut panduan lengkap cara membeli saham yang aman.
1. Pilih Saham yang Tepat
Tahap pertama ini paling seru sekaligus krusial. Kamu perlu riset dulu saham apa yang mau dibeli. Menurut situs brights by BRI, kamu bisa fokus pada fundamental perusahaan, seperti laba, utang, dan prospek bisnisnya.
Kalau kamu pemula, bisa mulai dari saham-saham blue chip, yaitu saham dari perusahaan besar yang stabil dan rutin bagi dividen, seperti BCA, Telkom, atau Unilever. Tujuannya biar investasi kamu nggak terlalu fluktuatif di awal.
2. Pilih Sekuritas dan Aplikasi Saham Terpercaya
Langkah berikutnya, kamu wajib pilih perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi oleh OJK serta BEI (Bursa Efek Indonesia).
Sekuritas ini fungsinya seperti perantara. Mereka bantu kamu buka rekening saham, beli, dan jual saham. Beberapa sekuritas populer buat pemula misalnya Bibit Sekuritas, IPOT, Mirae Asset, Mandiri Sekuritas, atau Ajaib.
Perhatikan juga fee transaksi (biasanya 0,1–0,3% per transaksi), tampilan aplikasinya, dan fitur pendukung seperti analisis saham.
Lewat aplikasi sekuritas saham, kamu juga bisa melihat harga saham real-time, membaca grafik pergerakan harga, dan langsung melakukan pembelian hanya dengan beberapa klik.
3. Buka Rekening Saham dan RDN
Begitu sudah pilih sekuritas, kamu akan diminta buka rekening efek dan RDN (Rekening Dana Nasabah). Rekening efek dipakai untuk menyimpan saham yang kamu beli, sedangkan RDN digunakan untuk menampung dan mengirim uang transaksi saham.
Proses buka akun biasanya bisa dilakukan secara online, cukup dengan KTP, NPWP, dan foto diri. Setelah akun diverifikasi, kamu sudah bisa mulai transaksi.
4. Setor Dana ke RDN
Sebelum beli saham, tentu kamu harus punya saldo di RDN. Caranya gampang, tinggal transfer dana dari rekening pribadi kamu ke rekening RDN sesuai nominal yang ingin diinvestasikan. Biasanya butuh waktu beberapa menit sampai saldo masuk dan siap dipakai buat beli saham.
Baca Juga: 10 Cara Asyik Buat Menghasilkan Cuan dari Investasi Saham Buat Pemula!
5. Tentukan Jumlah Lot yang Mau Dibeli
Dalam dunia saham, transaksi dilakukan per “lot”. Satu lot = 100 lembar saham. Misalnya kamu mau beli saham BBRI seharga Rp5.000 per lembar, berarti kamu perlu Rp500.000 untuk beli satu lot (belum termasuk fee transaksi).
Saran: mulai dulu dari jumlah kecil untuk belajar, baru tambah modal sedikit demi sedikit setelah paham ritmenya.
6. Lakukan Pembelian Saham
Kalau sudah siap, langsung aja masuk ke aplikasi trading dan pilih menu “Beli”. Kamu bisa beli saham di harga pasar (market order) atau di harga tertentu (limit order).
Misalnya harga BCA Rp10.000, kamu bisa pasang beli di Rp9.900 kalau berharap harga turun sedikit. Begitu order kamu match, selamat! Kamu resmi punya saham pertamamu 🎉
7. Pantau Pergerakan Saham Secara Berkala
Investasi saham bukan cuma beli, lalu ditinggal. Tapi, pantau juga kinerja saham secara berkala. Dilansir dari Gotrade, setidaknya kamu perlu memperhatikan laporan keuangan perusahaan, tren industri, dan berita ekonomi yang bisa memengaruhi harga saham.
Tapi jangan juga terlalu panik tiap harga turun. Wajar banget kalau saham naik turun, yang penting kamu tahu tujuan dan strategi investasi saham kamu.
8. Diversifikasi Portofolio
Jangan taruh semua dana di satu saham aja. Bagi portofoliomu ke beberapa sektor, misalnya perbankan, telekomunikasi, dan consumer goods. Nggak kalah penting, diversifikasikan juga ke instrumen investasi lainnya.
Dengan cara ini, kalau satu saham turun, kamu masih punya penopang dari sumber investasi lain. Menurut Allianz Global Investors, diversifikasi itu kunci biar kamu bisa mengelola risiko investasi tanpa harus kehilangan peluang cuan.
9. Jual Saham di Waktu yang Tepat
Sama pentingnya dengan membeli, kamu juga perlu tahu kapan waktu yang tepat buat jual saham. Idealnya, jual ketika harga sudah naik signifikan atau ketika perusahaan menunjukkan tanda-tanda fundamental melemah.
Hindari keputusan impulsif hanya karena panik lihat harga turun sesaat. Ingat, tujuan utama investasi saham itu membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar cari untung cepat.
Baca Juga: Investasi Jangka Pendek: Cara Cerdas Mengelola Uang
Tips Biar Nggak Rugi Saat Beli Saham
Biar langkah investasimu makin mantap, catat beberapa hal ini:
- Jangan pakai uang darurat: Investasi saham itu berisiko, jadi pastikan modal yang kamu pakai bukan buat kebutuhan mendesak.
- Pahami profil risikomu: Kalau kamu tipe konservatif, mulai dari saham blue chip aja dulu.
- Gunakan strategi DCA (Dollar Cost Averaging): Artinya beli saham rutin tiap bulan dalam nominal yang sama biar dapat harga rata-rata.
- Jangan gampang ikut tren: Cuma karena saham lagi viral, bukan berarti layak dibeli tanpa analisis.
- Selalu update pengetahuan investasi: Banyak platform edukasi saham gratis yang bisa bantu kamu belajar lebih dalam.
Investasi Itu Bukan Keberuntungan, tapi Konsistensi
Membeli saham bukan soal seberapa cepat kamu cuan, tapi seberapa konsisten kamu belajar dan sabar menghadapi pasar. Yang penting, mulai dulu dari langkah kecil, paham risikonya, dan jangan berhenti belajar. Happy investing!
















































