Pernah kepikiran, “Gimana caranya ngutangin negara atau perusahaan tapi tetap ada aturan mainnya, jelas bunganya, dan ada tanggal balik modalnya?” Nah, di situlah obligasi ada. Banyak orang sering dengar istilahnya, tapi masih bingung bedanya sama saham, deposito, atau pinjaman biasa.
Utang obligasi adalah surat utang jangka menengah–panjang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan untuk menghimpun dana dari publik. Kamu sebagai investor “meminjamkan uang” ke penerbit, lalu dibayar kupon (bunga/imbal hasil) berkala dan pokoknya dibalikin saat jatuh tempo. Makanya sering dianggap instrumen yang relatif stabil dan terukur.
Yuk, simak sampai tuntas biar kamu makin paham sebelum ikut “ngutangin” di investasi yang satu ini.
Jadi, Poinnya…
- Cara “Ngutangin” yang Legal & Terjadwal: Kamu beli obligasi = kamu jadi pemberi pinjaman. Enaknya, jadwal kupon dan tanggal jatuh tempo biasanya sudah jelas dari awal.
- Kupon = “Gaji” Berkala dari Investasi: Kupon itu imbal hasil yang dibayar periodik (misalnya per 3/6 bulan). Cocok buat yang suka arus kas lebih rapi, bukan cuma tunggu cuan di akhir.
- Stabil Bukan Berarti Nol Risiko: Obligasi umumnya lebih “tenang” dari saham, tapi tetap ada risiko: harga bisa naik-turun, penerbit bisa kesulitan bayar, dan ada risiko inflasi/likuiditas.
Utang Obligasi Itu Apa Sih?
Bayangin gini: sebuah perusahaan mau ekspansi atau pemerintah mau biayai program besar. Mereka butuh dana besar, tapi nggak selalu ideal kalau cuma mengandalkan pinjaman bank (bisa mahal, banyak syarat). Maka mereka menerbitkan obligasi.
Saat kamu membeli obligasi:
- Penerbit (pemerintah/perusahaan) dapat dana segar.
- Kamu (investor) memegang “bukti utang” yang berisi janji pembayaran kupon + pengembalian pokok.
- Di akhir periode (jatuh tempo/maturity), uang pokok kamu dikembalikan.
Kalau deposito itu “kamu nitip uang di bank”, obligasi itu “kamu meminjamkan uang ke pemerintah/perusahaan”. Bedanya, obligasi bisa diperdagangkan (tergantung jenisnya) sebelum jatuh tempo.
Cara Kerja Obligasi: Dari Terbit Sampai Jatuh Tempo
Biar kebayang lebih nyata, ini alurnya:
1. Penerbit menerbitkan obligasi
Mereka menentukan detail seperti:
- Nilai nominal (misalnya Rp1.000.000 per unit)
- Tenor (misalnya 3, 5, 10 tahun)
- Kupon (misalnya 6% per tahun)
- Jadwal pembayaran kupon (misalnya tiap 6 bulan)
2. Investor membeli obligasi
Kamu beli lewat platform/broker/mitra distribusi (tergantung jenis obligasi). Pada titik ini, kamu resmi jadi pemegang obligasi.
3. Penerbit membayar kupon secara berkala
Misal kamu beli obligasi Rp10 juta dengan kupon 6%/tahun, dibayar tiap 6 bulan. Secara sederhana, kupon setahun = Rp600 ribu, jadi kira-kira tiap 6 bulan kamu dapat Rp300 ribu (sebelum pajak).
4. Saat jatuh tempo, pokok dibayar balik
Di akhir tenor, penerbit mengembalikan nilai pokok (misalnya Rp10 juta) ke kamu. Beres, selesai kontraknya.
Jenis-Jenis Obligasi Yang Sering Kamu Temui
Nah, investasi ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis obligasi yang dibedakan berdasarkan penerbit maupun detail kuponnya.
1. Obligasi Pemerintah
Biasanya populer karena dianggap punya risiko gagal bayar lebih rendah (meski tetap ada risiko harga dan inflasi). Contohnya Surat Utang Negara (SUN) dan ada juga versi syariah seperti sukuk.
2. Obligasi Korporasi
Diterbitkan perusahaan. Kuponnya bisa lebih tinggi, tapi risikonya juga bisa lebih besar, terutama kalau kondisi keuangan perusahaan kurang solid. Jadi, wajib lebih teliti.
3. Kupon tetap vs kupon mengambang
- Fixed rate (kupon tetap): kuponnya “segitu terus” sampai jatuh tempo. Tenang, tapi harga obligasinya bisa lebih sensitif kalau suku bunga naik.
- Floating rate (mengambang): kupon mengikuti acuan tertentu. Biasanya lebih adaptif, tapi tetap tergantung mekanismenya.
Kenapa Banyak Orang Suka Obligasi?
Karena secara karakter, obligasi itu “lebih kebaca” dibanding instrumen yang volatil.
Keunggulan yang sering dicari:
- Pendapatan lebih stabil: ada kupon berkala (cashflow–friendly).
- Cocok buat diversifikasi: bisa jadi penyeimbang kalau portofolio kamu isinya saham semua.
- Bisa sesuai tujuan: misalnya buat dana pendidikan 3–5 tahun, atau target biaya besar yang tanggalnya jelas.
Tapi ingat ya, obligasi bukan “jalan pintas cepat kaya”. Ini lebih cocok buat strategi yang rapi dan sabar.
Risiko Obligasi, Wajib Diketahui
Nah ini bagian yang sering kelewat. Obligasi itu bukan tanpa risiko, cuma jenis risikonya beda.
- Risiko gagal bayar (default risk): Terutama di obligasi korporasi. Kalau penerbit kesulitan bayar kupon/pokok, investor bisa terdampak.
- Risiko suku bunga (interest rate risk): Kalau suku bunga obligasi naik, harga obligasi kupon tetap cenderung turun (karena obligasi baru mungkin menawarkan kupon lebih menarik).
- Risiko harga pasar (market risk): Walau kamu niat pegang sampai jatuh tempo, tetap saja harga di pasar bisa naik-turun kalau kamu butuh jual cepat.
- Risiko likuiditas: Ada obligasi yang mudah dijual, ada yang “sepi peminat”. Kalau likuiditas rendah, jualnya bisa lebih sulit atau harganya kurang optimal.
- Risiko inflasi: Kalau inflasi tinggi, nilai “riil” dari kupon yang kamu terima bisa terasa lebih kecil.
Tenang, bukan buat nakut-nakutin, tapi biar kamu masuk dengan ekspektasi yang sehat.
Tips Memilih Obligasi
Kalau kamu baru mulai investasi di obligasi, coba cek ini sebelum beli:
- Tujuan & lama waktu: butuh dana 1–2 tahun? Jangan ambil tenor 10 tahun (kecuali benar-benar dana dingin).
- Profil risiko: mau yang lebih stabil? pertimbangkan obligasi pemerintah/sukuk. Mau kupon lebih tinggi? korporasi bisa, tapi risikonya juga naik.
- Cek kredibilitas penerbit: untuk korporasi, perhatikan kondisi bisnis, utang, dan kalau tersedia, peringkat kredit.
- Pahami pajak kupon: kupon biasanya kena pajak, jadi hitung net return-nya ya.
Tetap Perlu Strategi
Utang obligasi adalah cara pemerintah atau perusahaan menghimpun dana dengan janji pembayaran kupon berkala dan pengembalian pokok saat jatuh tempo, menarik buat kamu yang cari investasi lebih terukur dan cashflow yang jelas. Tapi, tetap pahami risikonya (default, suku bunga, likuiditas, inflasi) supaya keputusanmu makin mantap.
Kalau kamu pengin belajar finansial dengan cara yang lebih gampang dan aplikatif, yuk mampir ke Tuwaga! Di Tuwaga kamu bisa dapetin info lengkap dan perbandingan berbagai produk finansial seperti kartu kredit, KTA, deposito, hingga dana tunai properti dan kendaraan, plus artikel-artikel insight biar keputusan keuangan kamu makin cerdas.
Kamu juga bisa apply produk keuangan langsung lewat Tuwaga. Dan buat yang suka promo, cek juga TuwagaPromo, siapa tahu ada promo & diskon menarik di merchant favorit kamu di mall!














































