Istilah “bunga pinjol per hari” sering dipakai untuk dua hal yang berbeda: biaya pendanaan saat pinjaman berjalan normal dan denda ketika pembayaran terlambat. Kalau keduanya dicampur, hasil hitung bisa terlihat jauh lebih besar atau justru terlalu kecil.
Cara paling aman adalah membaca angka di perjanjian atau simulasi resmi, lalu menghitung dari dasar yang benar. Jangan mengambil persentase dari iklan atau unggahan media sosial dan menganggap semua aplikasi memakai struktur yang sama.
Mulai dari tiga angka: pokok, tarif, dan dasar perhitungan
Pokok adalah jumlah dana yang menjadi dasar biaya. Tarif adalah persentase yang dikenakan. Dasar perhitungan menjelaskan apakah tarif diterapkan terhadap pokok awal, sisa pokok, atau struktur lain sesuai perjanjian. Inilah bagian yang paling sering membuat dua produk dengan angka “0,x% per hari” menghasilkan total berbeda.
Contoh ilustrasi sederhana: pokok Rp3.000.000 dan tarif manfaat ekonomi 0,1% per hari selama 30 hari. Jika untuk latihan diasumsikan tarif dihitung lurus dari pokok awal, biayanya Rp3.000.000 × 0,1% × 30 = Rp90.000. Total sebelum komponen lain menjadi Rp3.090.000. Ini hanya contoh matematika, bukan tarif atau metode produk tertentu.
Kenapa hasil di aplikasi bisa berbeda dari rumus sederhana?
SEOJK 19/2025 mendefinisikan manfaat ekonomi lebih luas daripada bunga saja. Di dalamnya dapat termasuk bunga, margin atau bagi hasil, biaya administrasi, fee platform, dan biaya lain yang masuk definisi regulasi. Karena itu, pengguna perlu membandingkan total pembayaran, bukan hanya satu persentase.
Ada produk yang menampilkan cicilan berkala, ada yang memiliki biaya tertentu pada awal transaksi, dan ada yang menghitung komponen biaya dengan struktur berbeda. Jika angka simulasi tidak cocok dengan hitunganmu, minta breakdown resmi sebelum menyetujui.
Bunga normal dan denda keterlambatan bukan hal yang sama
Denda muncul karena pembayaran melewati jatuh tempo. Jangan memasukkan denda ke simulasi normal jika kamu belum terlambat. Sebaliknya, saat sudah terlambat, jangan mengira seluruh kenaikan tagihan adalah “bunga baru” tanpa melihat rincian.
Minta penyelenggara memisahkan pokok, manfaat ekonomi, denda keterlambatan, pajak bila relevan, serta biaya lain yang sah. Pemisahan ini memudahkan pengecekan apakah totalnya sesuai kontrak dan batas regulasi.
Gunakan total pembayaran untuk membandingkan dua tenor
Misalnya dua pilihan memberi dana bersih sama Rp3 juta. Opsi A berakhir dalam 30 hari dengan total pembayaran Rp3,12 juta. Opsi B berakhir dalam 90 hari dengan total pembayaran Rp3,33 juta. Opsi B mungkin terasa lebih ringan per periode, tetapi biaya totalnya lebih tinggi.
Di sinilah persentase harian saja tidak cukup. Catat jumlah dana yang benar-benar diterima, total semua pembayaran sampai lunas, dan tanggal jatuh tempo. Ketiganya memberi gambaran biaya yang lebih nyata.
Checklist sebelum menekan tombol setuju
- Cocokkan nominal dana bersih yang masuk ke rekening.
- Cari total pembayaran sampai lunas, bukan hanya cicilan pertama.
- Pisahkan manfaat ekonomi dari denda keterlambatan.
- Periksa apakah ada biaya administrasi atau platform.
- Simpan simulasi dan perjanjian sebelum dana dicairkan.
Jika penyelenggara tidak memberikan rincian yang cukup untuk memahami biaya, jangan buru-buru melanjutkan. Transparansi biaya adalah bagian penting dari keputusan kredit yang sehat.
Cara membandingkan tarif harian dengan tarif bulanan
Jangan langsung mengalikan tarif harian dengan 30 lalu membandingkannya dengan angka bulanan tanpa membaca basisnya. Satu produk bisa menghitung terhadap pokok awal, produk lain terhadap sisa pokok atau struktur cicilan tertentu. Cara yang lebih aman adalah menyamakan horizon: ambil skenario nominal dan tenor yang sama, lalu bandingkan total rupiah yang keluar.
Contoh: produk A menampilkan tarif harian, produk B menampilkan cicilan bulanan. Masukkan keduanya ke tabel sederhana berisi dana bersih diterima, total biaya, jumlah cicilan, dan total pembayaran. Rupiah akhir jauh lebih mudah dibandingkan daripada dua persentase dengan basis berbeda.
Kesalahan hitung yang paling sering terjadi
Kesalahan pertama adalah menghitung bunga dari limit, padahal dana yang benar-benar dipakai lebih kecil. Kesalahan kedua adalah mencampur denda ke biaya normal. Kesalahan ketiga adalah mengabaikan biaya platform karena fokus pada bunga. Kesalahan keempat adalah menganggap tarif maksimum regulasi sebagai tarif yang pasti dipakai semua penyelenggara.
Regulasi menetapkan batas dan kerangka, sedangkan angka produk tetap harus dibaca dari perjanjianmu. Simpan screenshot simulasi sebelum menyetujui agar kamu punya pembanding bila angka tagihan berubah.
Kalau kamu sedang membandingkan biaya, lanjutkan dengan panduan biaya pinjol selain bunga, cara membandingkan pinjol bunga rendah, dan batas denda pinjol legal agar angka harian dibaca dalam konteks total kewajiban.
Kesimpulan
Cara hitung bunga pinjol per hari harus dimulai dari kontrak dan basis perhitungan yang benar. Persentase harian hanyalah satu bagian dari biaya. Bandingkan total pembayaran, pisahkan denda dari biaya normal, dan gunakan contoh hitung hanya sebagai alat memahami—bukan menggantikan perhitungan resmi produk.
Sumber utama
OJK — SEOJK 19/SEOJK.06/2025 tentang Penyelenggaraan LPBBTI
OJK — POJK 40 Tahun 2024 tentang LPBBTI















































